LAGI, Penetapan 1 Syawal atau Idul Fitri terjadi perbedaan. Sebagian besar Ormas Islam, termasuk ilmuan dan dilengkapi peralatan canggih, memutuskan dan menetapkan bahwa 1 Syawal 1432 Hijriyah jatuh pada hari Rabu (31/8/2011). Keputusan ini merupakan hasil sidang itsbat (penetapan) 1 Syawal 1432 Hijriyah, yang dipimpin Menteri Agama Suryadharma Ali, di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Senin (29/8) malam. Sedangkan PP Muhammadiyah, sejak awal sudah mempublikasikan bahwa 1 Syawal 1432 Hijriyah jatuh pada hari Selasa (30/8).
Pertanyaannya adalah, kenapa umat Islam tidak kompak menentukan awal bulan Syawal maupun awal Ramadhan, Sering terjadi perbedaan. Bahkan ada pula yang sudah menunaikan Salat Idul Fitri lebih dahulu, seperti pengikut naqsabandiyah di Sumatera Barat, padahal sidang itsbat belum dilaksanakan. Lalu, kenapa perserta sidang itsbat, yang notabenenya utusan Ormas Islam tidak bisa membatalkan keputusan tanpa melalui sidang? Meski kedua-duanya memiliki dasar (dalil) yang kuat dan sah. Namun, selama hisab (hitungan) dan rukyat (melihat anak bulan–hilal), tidak memiliki kriteria yang sama, tentu ke depan akan terjadi lagi perbedaan-perbedaan, sebab dua mathode yang tidak dipadukan atau didasari kepentingan umat dan berhubungan erat dengan ibadah.
Tanpa banyak mempersoalankan perbedaan, tapi muncul subtansi yang mendasar, yakni umat Islam khususnya Indonesia dituntut mengedepankan ukhwah Islamiyah dalam menyikapi suatu perbedaan. Jangan sampai perbedaan itu memecahbelah kekuatan dan persatuan, namun hendaknya menjadi modal dasar untuk memperkuat keimanan dan menambah wawasan keilmuan.
Perbedaan penetapan Idul Fitri ini hendaknya menjadi introspeksi bagi umat Islam Indonesia. Dengan artian, tidak memaksakan kehendak dalam satu pendapat, namun harus mempertimbangkan berbagai aspek lainnya. Yang jelas, perbedaan ini akan menjadi rahmat, apabila disikapi dengan ukhwah Islamiyah. Sebab, umat Islam tidak hanya toleransi kepada pemeluk agama lain, namun sesama umat Islam juga dituntut untuk menghargai pendapat lain. Tidak saling menyalahkan antar satu dengan yang lain, akan tetapi perbedaan itu menjadi satu kekuataan, seperti ada yang baca qunut saat Salat Subuh, ada tahlilan dan ada pula yang memperingati Maulid dan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.
Dengan catatan, ke depan Ormas Islam Indonesia, ilmuan, pemerintah hendaknya dapat menjembatani hal-hal seperti ini. Minimal membuat kriteria yang sama dalam penentuan awal Syawal atau Ramadhan. Insya Allah, perbedaan-perbedaan dalam penetapan awal puasa dan Lebaran, tidak terjadi lagi. Posisi pemerintah harus ditempatkan sebagai ulil amri, yang semuanya harus mematuhi keputusan pemerintahnya, apalagi peserta sidang juga berasal dari Ormas Islam, kenapa ada yang tidak mematuhi hasil keputusan bersama. Hanya Allah SWT yang mengetahui…
source : www.poskota.co.id
Tuesday, August 30, 2011
Sikapi Perbedaan Lebaran Dengan Ukhwah Islamiyah
Labels:
Fact and Unique Info
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment